Perempuan; Investasi Generasi Penerus Bangsa
Agustus 02, 2021
Ketika perempuan dilahirkan ke bumi,
banyak hal yang mulai terpikirkan oleh kebanyakan orang dengan pemikiran yang
margina dan selebihnya cenderung kolot. Ketika perempuan kemudian tumbuh dewasa
dan melakukan beberapa perangainya, beberapa dogma yang dilahirkan dari stigma
yang cenderung seksis mulai dialamatkan pada perempuan. Mulai dari penampilan,
prilaku dan isi kepala perempuan. Hal ini dimulai dari perempuan yang kemudian
memiliki standar penampilan yang lahir dari otak masyarakat, kemudian prilaku
yang dirasa tidak sesuai dengan apa yang menjadi khendak mereka akan dianggap
menyimpang pun isi kepala yang sedikit kritis akan dianggap liberal. Lalu,
seperti apa masyarakat kita yang cenderung patriarki ini memaknai kaum
perempuan?
Pada hari ini, beberapa jamuan yang
mana dialamatkan terhadap kaum perempuan cenderung berpangkal pada anggapan
bahwa, perempuan tak wajib menyandang pendidikan tinggi, untuk kewajiban
domestik perempuanlah yang selalu diandalkan, seolah hal itu merupakan titah
absolut dari Tuhan. Tak jarang, banyak perempuan yang kemudian menjadi budak
masyarakat patriarki dan menjadi hamba dari pemikiran sempit, terus saja seksis
secara berkesinambungan, hari demi hari para kaum perempuan banyak yang terlena
dengan suguhan standar prilaku dan kecantikan yang membuat perempuan terus
memberi makan rasa malas, terlebih menganggap bahwa, kecantikan dan sikap
lemah-lembut ini menjadi kunci dari segala kebaikan tumbuh menjadi perempuan.
Entah berapa banyak perempuan dimuka
bumi yang ternina bobo oleh pujian, hingga merayakan kebodohan dan menertawakan
kaum pembelajar dengan begitu yakin. Lalu, masyarakat kita lupa bahwa,
perempuan adalah kontributor terbesar atas peradaban bangsa, investasi emas
untuk menciptakan generasi masa depan yang berkompeten, semua itu berpangkal
dari diri perempuan, yang seharusnya menjadi rahasia umum, perempuan adalah
kunci atas masa depan bangsa.
Untuk memaknai perempuan, bukan
sekedar menuntutnya menjadi bagian dari salah satu guru untuk anaknya kelak
tapi, jauh sebelum itu apa yang hal-hal fundamental yang harusnya dipahami?
Mari kita menelisik sedikit lebih jauh, dimana perempuan ini menjadi
satu-satunya tempat dimana dalam rahimnya bertumbuh zigot yang akan berevolusi
menjadi bayi yang kemudian dilahirkan dan disebut “Generasi Penerus Bangsa”
dimana pada bayi ini, dititipkan harapan dan doa, agar kelak ia mampu membawa
perubahan kea rah yang lebih baik, bagi bangsa ini.
Pernahkah kita memikirkan seberapa
berpengaruh kecerdasan seorang perempuan terhadap anak-anaknya kelak? Apakah
kita akan terus memaknai perempuan dengan standar masyarakat yang patriarki?
Betapa perempuan tak pernah dimaknai sebagai investasi yang seharusnya banyak
perhatian yang ditorehkan kepada perempuan dalam menyikapi kesehatan,
pendidikan serta kesetaran gender yang mestinya menjadi ajang untuk mengajak
perempuan terus menjadi faqir ilmu yang senantiasa istiqomah belajar dan
mematangkan pola pikir. Namun, kita bisa melihat dengan pemikiran marginal yang
menempatkan perempuan pada posisi selain prioritas dalam hal pendidikan,
kecerdasan perempuan tak lagi dianggap penting. Hingga akhirnya untuk
memikirkan nasib generasi penerus bangsa pun tak lagi tersampaikan.
Sebuah riset membuktikan bahwa,
kecerdasan anak berasal dari sang ibu. Namun, tak jarang banyak orang yang
menganggap bahwa, kecerdasan anak ditentukan dari kedua orang tua. Dalam
penelitian tersebut menyatakan bahwa, aga gen tertentu yang beroperasi secara
berbeda. Kecerdasan seseorang terletak di kromosom X. Perempuan membawa dua
kromosom X dan laki-laki membawa satu kromosom X. Maka, kecerdasan seorang anak
sebagian besar berasal dari sang ibu. Pada tahun 1994, Medical Research Council Social and Public Health Sciences Unit,
menganalisis 12,868 orang berusia 14-22 tahun. Hasilnya tim peneliti menemukan
predicator kecerdasan terbaik adlaah IQ dari gen sang ibu. setelah
memperhitungkan ras, pendidikan dan status sosial ekonomi anak, ditemukan
predikator kecerdasan terbaik berasal dari ibu. Kemudian, hadir beberapa
hipotesa tentang hal tersebut, yang mana penjelasan logis bermunculan ibu yang
pintar memiliki anak-anak yang pintar. Apakah hal ini masih menjadi masalah
klise atau senada dengan simfoni yang melankonis saja?
Untuk semua ibu masa depan, peran
utama berada pada tangannya, selain madrasah utama, tumbuh kembang anak dalam
periode kritis memanglah membutuhkan ibu yang tanggap akan hal ini, kematangan
pola pikir atau kecerdasan ibu dalam menyikapi hal ini tentu menjadi faktor
pendorong yang berpengaruh. Para ilmuan memperkirakan hanya 40-60% kecerdasan
anak yang berasal dari ayahnya. Dimana faktor lingkungan pun turut mendukung
tumbuh kembang anak. Kemudian, hadir penelitian menarik lainnya dari University of Washington, AS. Di sana,
peneliti menemukan bahwa ikatan emosional yang baik antara ibu dan anak amat
penting bagi pertumbuhan beberapa bagian otak anak, contohnya bagian area hippocampus yang terletak di lobus temporal. Dimana hippocampus ini
merupakan area yang berhubungan dengan memori, belajar, dan respon stres.
Setelah peneliti melakukan analisis antara hubungan ibu dan anak selama tujuh
tahun, mereka kemudian mendapatkan temuan yang menarik. Ternyata, jika seorang
anak mendapatkan dukungan emosional dan intelektual dengan baik maka area
hippocampusnya lebih besar 10% daripada anak-anak yang tidak mendapatkan
dukungan dengan baik.
Bagaimana kita mampu bersikap abai
terhadap pentingnya pendidikan bagi perempuan? Baik formal maupun non formal.
Pada subtantifnya, perempuan dan pendidikan atau bidang pengetahuan ini adalah
hal yang tak boleh dipisahkan dari diri perempuan. Menjadi pelaku literasi yang
memiliki daya baca dan analisis yang baik, memiliki pola pikir yang matang,
mampu mengusai diri dan mampu manajemen stres dengan baik merupakan indikator
penting yang sudah seharusnya dimiliki oleh perempuan dan ibu dimasa depan. Apakah hal
tersebut tidak penting bagi investasi generasi penerus bangsa? yang katanya
banyak dititipkan harapan bagi bangsa ini? Mengapa banyak ekspektasi akan
harapan bagi penerus bangsa namun, nihil dalam mendukung pihak yang berpengaruh
kecerdasan anak itu sendiri?
Terlalu dangkal pemahaman akan
perempuan. Hanya dijadikan objek dan tubuhnya dijadikan bahan eksploitasi yang
kemudian diperparah oleh dogma yang pincang dan tak berujung dengan jelas.
Standar kecantikan, yang kerap digayungkan, membuat perempuan amnesia dengan
masa depan yang seharusnya diinvestasikan sejak dini. Harapan akan kenyataan
dimasa depan kian keruh, terbawa arus pemikiran marginal nan seksis terhadap
kaum perempuan. Perempuan tak lagi masuk dalam hitungan angka-angka prioritas
yang harus dilindungi haknya, harus dipenuhi kebutuhannya dan dipersiapkan
kesehatan mentalnya dimasa depan. Semua hanya akan menjadi mimpi bagi perempuan.
Lalu, perempuan yang mulai terkantuk-kantuk dalam ambisi kecantikan akan
memaknainya sebagai dongeng dan perempuan yang memilih bangkit walaupun sambil
merangkak memilih untuk mewujudkan mimpinya.
Mari kita kembali merenungkan,
tentang perempuan yang sungguh penting kontribusinya terhadap manusia dimuka
bumi ini, tak hanya mengandung dan melahirkan namun, segala yang menjadi syarat
tumbuh kembang anaknya berada dalam genggamannya. Apalagi isi kepalanya kelak.
Kaum perempuan seperti apa yang seharusnya dicetak oleh otak yang memiliki
pemikiran marginal dan pincang? Apakah kita akan terus tumbuh dalam bingkai
dongeng tentang perempuan yang hanya dijakan tempat yang pernah berjasa
melahirkan anak manusia? Hanya sebatas itu? Padahal nyawa merupakan taruhannya,
kualitas dirinya menentukan arah perkembangan anaknya.
Membicarakan perempuan yang juga
merupakan makhluk sosial dengan pandangan fungsionalisme structural dalam
sosiologi, masyarakat merupakan struktur yang dimana semuanya saling berkaitan.
Semuanya memiliki peran dan fungsi yang saling berkaitan untuk memenuhi
kebutuhan masing-masing individu. Bayangkan jika perempuan tidak berpendidikan,
tentunya ia tidak memiliki beberapa skills
yang dapat dijadikan modal untuk berperan dan berfungsi di masyarakat. Jika
terjadi seperti itu lalu, bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhannya dan orang
lain? Maka dari itu, pendidikan merupakan modal seorang perempuan untuk
berperan, baik sebagai perempuan itu sendiri maupun kelak sebagai seorang ibu,
berfungsi dan memenuhi kebutuhannya di masyarakat.
Setelah jauh memaknai kelangsungan
jasa perempuan terhadap generasi penerus bangsa, hal yang lebih mengejutkan
ialah dengan terpenuhinya pendidikan terhadap perempuan dapat mengurangi angka
kematian. Bagaimana bisa pendidikan pada perempuan mengurangi angka kematian?
Dengan mengenyam pendidikan maka, seorang perempuan memiliki pengetahuan dan
keyakinan akan bahaya pernikahan dini serta resiko pernikahan dini. Di mana
seperti yang kita ketahui, pernikahan dini akibat kehamilan berpotensi
mengakibatkan kematian akibat usia yang masih tergolong muda. Data yang
ditunjukan oleh Women UN di tahun 2015, kesadaran pendidikan bagi perempuan
memiliki dampak terhadap penurunan AKI (Angka Kematian Ibu) hingga 66%. Hal ini
tentunya dikarenakan adanya pengurangan angka pernikahan dini.

0 comments